Agen perubahan selalu ditunggu kiprahnya. Mereka bisa muncul dimana saja, baik di level negara, birokrasi maupun masyarakat. Mereka ini bisa fasilitator masyarakat, guru, mahasiswa, artis, arsitek, petani, nelayan, dokter, jaksa, bupati bahkan hakim. Agen-agen ini adalah pejuang transformasi yang senantiasa memberikan efek bagi sekitarnya. Jika resonansinya besar maka efek yang ditimbulkannya juga semakin besar. Sebaliknya, jika kiprahnya kecil, efek domino tak terasa.Namun efek perubahan juga dapat diukur dari faktor lain. Pertama,Kapasitas Personal. Sudah sewajarnya integritas individu yang mentasbihkan diri sebagai pelopor akan dinilai dan dicontoh oleh publik, dijadikan referensi, dan diduplikasi. Kekuatan individu juga berkontribusi pada kharakter leadership. Tangan besi dan demokrasi yang dalam kenyataannya berdiri senjang di dua kutub yang berlawanan dapat menjadi dua kharakter yang menjadi tipis batasnya jika diimprovisasi secara canggih oleh pemimpin yang tegas.
Kedua, Posisi yang dipegang. Semakin strategis posisi yang diduduki seseorang maka semakin besar peluang untuk melakukan perubahan lebih tersistem dan massif. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika banyak orang berebut posisi untuk berkompetisi mentransformasikan perubahan. Motivasi untuk mencari posisi adalah demi mewujudkan perubahan dari titik yang paling strategis, bahkan dicapai melalui berbagai cara. Demikianlah kurang lebihnya calon presiden dan calon legislatif kita mencari kemenangan kendatipun tidak seluruhnya. Sebab kebijakan diproduksi oleh mereka dari level ini.
B. Dari Hitler hingga Obama
Sejarah membuktikan bahwa Kekuasaan dekat dengan penyalahgunaan, meskipun diperoleh melalui proses demokratis. Untuk mereview fenomena ini, jika tidak perlu merekam Indonesia, kita dapat menengok Jerman dan Amerika. Jerman dan Amerika merepresentasikan bad leadership dan best leadership.
Dalam Meinz Kampf, Hitler berhasil menjadi pemimpin melalui pemilu 31 Juli 1932 yang dimenangi Nazi dengan suara 37,3 persen dan meraih 230 kursi di parlemen. Nampaknya kemampuan orasi Hitler dalam membangkitkan massa sangat mempengaruhi kemenangannya. Dengan modal suara itulah, pada 30 Januari 1930, Hitler diangkat menjadi chancellor (Kanselir) Jerman. Ia didukung para industriawan, aristokrat pemilik tanah, yang mengharapkan, Hitler akan melawan komunisme, membubarkan organisasi buruh, dan meningkatkan industri militer. Itulah demokrasi di Jerman ketika itu. Rakyat Jerman mendukung gagasan-gagasan nasionalisme ekstrim Nazi dan memilih pemimpin seperti Hitler yang kemudian menyeret dunia ke dalam Perang yang sangat mengerikan dengan mengorbankan nyawa jutaan manusia (www.adian husaini.com).
Di abad ini, pemilihan kepemimpinan paling inspiratif ditunjukkan oleh Obama yang berhasil memenangi Pemilu US, pada 4 November 2008. Obama mengalahkan John McCain dan menjadi orang Afrika Amerika pertama yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Dalam pidato kemenangannya yang disampaikan di depan ratusan ribu pendukungnya di Taman Grant di Chicago, Obama menyatakan bahwa "perubahan telah tiba di Amerika. Lahir di Hawaii, Obama akan menjadi Presiden AS pertama yang lahir di luar Daratan Amerika Serikat. Ia juga akan menjadi Presiden termuda kelima ketika menjabat dan yang kedua sejak Lincoln yang basis politik utamanya terletak di Illinois karena dedikasi sebagai pekerja social dan lawyer (wikipedia.org).
Baik Hitler maupun Obama, benar-benar dilahirkan dan tumbuh bersama basis masanya. Sejak muda, mereka telah menonjol di dalam komunitasnya. Visi dan misi keduanya tergambar jelas. Konsistensi terhadap perubahan sama-sama mendarah daging. Yang membedakan justru sangat krusial, yaitu moralitas. Hitler adalah pemimpin genocide terbesar hingga kini dengan dampak yang tak terperi. Sehingga jelas tidak layak untuk diperbandingkan dengan Obama dalam hal ini.
B. Kesenjangan Perjuangan di Indonesia
Apa kabar kepemimpinan dan perubahan Indonesia? Ternyata masih bejibun caleg yang tidak bervisi dan tak berniat apa-apa untuk mengubah situasi. Sebagian orang masih menganggap bahwa menjadi anggota legislatif terkait dengan kepentingan untuk mencari nafkah dan memperkaya diri. Sehingga kekhawatiran proses legislasi kita dipengaruhi oleh praktek-praktek perdagangan kepentingan karena kentalnya nuansa profit dan beneficiaris terbatas.
Padahal seharusnya kehadiran seseorang dalam komunitas minimal mempengaruhi perubahan komunitas dimana dia tinggal. Perubahan ini sering tidak terjadi jika seseorang tidak memiliki pengaruh apapun terhadap komunitasnya. Pengaruh dapat berasal dari aspek mana saja, bisa berasal dari aspek kekuasaan ideologi, kepemilikan modal maupun kesadaran altruistik untuk memperjuangkan nasib ekologi dan masyarakat.
Tidak semua upaya untuk menggerakkan massa demi kepentingan politik dan kekuasaan kendatipun sebagian besar yang kita lihat di media massa berkiprah partisan. Dari yang sedikit itu, terdapat beberapa orang community organizer (CO) dengan gagah berani mentransformasikan perubahan melalui pendidikan terorgaisir menuju keadaan ekologi dan komunitas yang lebih baik.
Di bidang lingkungan sebut saja Kotri yang berjuang sendirian mengolah lahan kering, tandus dan bebatuan seluas 9 hektare untuk ditanami cendana dan kemiri. Prestasi, petani dari Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur ini meraih penghargaan Kalpataru. Ada juga inisiasi di level struktur seperti Pemda Bali yang menanam mangrove sebagai penahan interusi. Atau Sri Kusyuniati sang pelopor gerakan Desa Siaga (Siap Antar jaga) untuk memperbaiki kesehatan perempuan yang ternyata adalah aktivis perburuhan. Dan tak terhitung lagi penggagas perubahan dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Jika konsistensi perubahan menggelora dalam skala besar niscaya akan menginspirasi lahirnya Agen pembaharu lintas batas negara seperti Zuckerberg dan Lazaridis yang berjasa dalam mengembangkan facebook dan Blackberry yang merubah peradaban komunikasi.
Mereka merebut peran dan tugas Negara karena pemerintahan telah kehilangan fungsinya. Namun tidak bermaksud mengambil alih kekuasaan tetapi justru membantu pemerintah untuk menyadarkan Hak-Hak Azasi Warga negara, mendorong partisipasi, menggerakkan pendidikan politik, menarik respon kebijakan, menjaga keseimbangan alam, bahkan meletakkan pembangunan dalam koridor keberlanjutan.
C. Terus Mempelajari Kesalahan
Banyak lesson learned yang bisa kita petik dari berbagai aksi atau peristiwa yang berlangsung. Coba kita lihat, kasus Prita yang memberikan pelajaran pada kita bagaimana Hak konsumen atas layanan kesehatan kerap dipandang sebelah mata dalam pelayanan public semacam RS Omni, atau kasus Manohara yang membuka tabir KDRT kendatipun kasusnya sendiri masih kabur karena Manohara lebih disibukkan dengan urusan popularitas.
Di atas segala kekurangan, mereka sebenarnya telah menjadi martir perubahan. Kehebohan public telah berhasil memancing perhatian, simpati, respon dan control public.Akankah kepemimpinan presiden kita masa depan benar-benar melanjutkan pengembalian kekuasaan hakiki pada sang pemiliknya lebih cepat. Rakyat jelata alias wong cilik. Jangan hanya sebatas jargon kosong...
Ade Pujiati, Penggagas sekolah gratis di kawasan slum. Para gurunya benar-benar volunteer (foto : www.langitperempuan.com)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar