12 Mei, 2009

Seattle, Cancun, Swine Flu dan Solusi Globalisasi

A. WTO; Putaran yang memusingkan Dunia Ketiga
Globalisasi yang dituangkan dalam berbagai consensus dan disepakati dalam berbagai putaran sejak putaran Uruguay pada September 1986 meninggalkan banyak persoalan bagi Negara berkembang dan Negara miskin. Putaran demi putaran yang bergulir hingga tahun 1994. Pada putaran terakhir di Marrakech disepakati untuk mengganti GATT dengan WTO yang beranggotakan 149 negara dari semula 128 negara. WTO ditasbihkan mengatur tata cara perdagangan. Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan berlaku sebagai hukum yang mengikat. Namun proses perumusannya diperoleh melalui tawar menawar yang tentu saja hanya memiliki kepastian hukum bagi Negara miskin. Negara-negara maju masih bebas dari pembatasan aturan. Ketentuan yang diberlakukan sangat timpang dan mayoritas berpihak pada kepentingan pemodal. Jika Negara kaya melanggarnya, tidak akan ada sanksi setegas sanksi yang diberlakukan kepada Negara miskin. Telah jelas bahwa Negara kaya membela kepentingan manufaktur yang tak berbendera.

B. Seattle; Grand Bargain
Singkat cerita, pada tahun 1999 konferensi digelar kembali di Seattle dengan agenda utama finalisasi NAFTA dan WTO. Tapi mulai hari pertama hingga hari terakhir consensus gagal dicapai karena dihadang gelombang aksi masa anti globalisasi. Aksi demonstrasi ini kian meluas dan melumpuhkan akses ke lokasi-lokasi pertemuan. Pihak kemanan tidak mampu mencegah para demonstran yang penuh amarah. Akhirnya liberalisasi perdagangan hanya disepakati pada dua sector, yaitu pertanian dan tekstil. Selebihnya sektor lain dilepaskan sesuai kebijakan negara berkembang. Kesepakatan tersebut dikenal dengan Grand Bargain. Namun apalah arti sebuah kesepakatan jika tidak diperoleh posisi yang seimbang. Melunaknya sikap negara maju hanyalah sandiwara konferensi. Pada saat implementasi dengan mudahnya mereka mengingkari. Hampir 10 tahun subsidi produk pertanian negara maju dan kuota tekstil negara berkembang diberlakukan. Amat mencekik pertumbuhan ekonomi negara dunia ketiga.

C. Cancun; Better Life from poverty


Cancun Mexico, sebuah Kota indah, lokasi pertemuan WTO yang kesekian kalinya pada September 2003 akhirnya meneguhkan kesepakatan-kesepakatan dagang sebelumnya dengan berbagai implikasi negatif dan sedikit positifnya. Konferensi ini dihadiri oleh 3000 jurnalis, 2000 NGO dan 5000 delegasi pemerintah. Kofi Anan sebagai keynote speaker mengatakan:


We are told that trade can provide a ladder to a better life and deliver us from poverty and despair... Sadly, the reality of the international trading system today does not match the rhetoric.

Apakah Kofi waktu itu ngga sadar ya kalau apa yang dia kuatirkan adalah akibat dari lemahnya kelembagaan PBB juga. Berbagai kesepakatan dagang melangkahi kewenangannya. Bahkan dampak krisis financial global dewasa ini adalah bagian dari terlampau bebasnya dana, investasi dan perdagangan. Negara-negara yang telah advanced diuntungkan karena hanya berkompetisi dengan Negara pasca colonial yang sedang merangkak mengelola perekonomiannya setelah sekian tahun dijajah. Alhasil keuntungan dan pertumbuhan dari perdagangan tidak terdistribusi dengan adil. 49 Negara berkembang tidak berkontribusi pada pertumbuhan perdagangan dunia. 646 miliar populasi di 5 Negara pengekspor terbesar (Amerika serikat, Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang) memiliki kapabilitas 100 kali lipat lebih oke ketimbang penduduk di 49 negara berkembang (www.globalissues.org). Belum lagi keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari berbagai aspek lain akibat kebijakan tariff.

D. Swine Flu, lagi-lagi Penyakit Globalisasi
Implikasi liberalisasi merambah kemana-mana, termasuk dunia kesehatan, yang mewujud dalam bentuk penyakit flu. Sebenarnya pandemi flu sudah sejak jaman dulu mendera dunia. Sebut saja misalnya Flu Spanyol 1918 yang mengakibatkan hampir 10 juta orang dirawat di RS. Wabah influenza sejak perang dunia I hingga sekarang merupakan wabah yang paling ditakuti karena kemampuannya beradaptasi dan bermutasi. Apalagi virus ini telah menemukan habitat paling nyaman untuk bermutasi, tapi bukan lagi di tubuh burung sebagaimana diketahui beberapa tahun lalu di Hongkong, melainkan di tubuh babi.

Swine Flu merebak mulai dari Mexico hingga ke Texas dan California pada pertengahan april 2009. Flu Babi menewaskan 159 orang hanya di Mexico. Di beberapa negara lain tidak. Informasi mengenai pandemi flu ini menyebar tak karuan dan menyesatkan. Berbagai situs terkenal berlomba menyebarluaskan informasi yang sayangnya justru membingungkan karena dilandasi kepanikan. Twitter misalnya sebagai situs terkenal artis Hollywood malah menggambarkan flu babi hampir mirip dengan flu Spanyol 1918-1919 yang membuat jutaan orang terserang. Jenazah para korban tewas flu ini mirip jenazah korban perang dunia, yang digambarkan seperti tumpukan kayu (tempointeraktif, 29 April 2009). Bayangan kengerian itu menambah kepanikan dunia yang belum sembuh dari kepanikan krisis financial akibat kapitalisme niaga properti.

E. Globalisasi tak kunjung bersolusi
Informasi terakhir suspect penderita flu babi di Indonesia adalah wisatawan asal Belanda yang baru saja mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali pada tanggal 10 Mei 2009. Karena merupakan salah satu umplikasi penyakit global (global desease), maka respon penanganannyapun menggunakan mekanisme globalisasi. Ledakan informasi yang mengkhawatirkan itu secara alamiah disaring oleh beberapa media profesional dengan penyediaan layanan tambahan seperti Google yang melengkapi up dating informasinya dengan Google Maps. Pandemic yang mudah mewabah semudah kepanikannya.

Kemudahan akses sebagai akibat globalisasi informasi ke berbagai penjuru dunia mengapa tidak memudahkan berbagai recoverynya? Liberalisasi perdagangan pernah dibahas di Cancun Mexico, tapi sekarang pandemi juga muncul di Mexico. Dan anehnya kenapa penyakit ini hanya terlokalisir di Mexico? Kenapa flu babi menewaskan 129 orang yang semuanya hanya di Mexico? Kenapa Flu Burung menewaskan 39 orang (terbanyak dibandingkan dengan negara lain) hanya di Indonesia? Apakah semua ini bagian dari konspirasi Global juga sebagaimana pernah dibuktikan oleh Siti Fadhillah Supari? Bagaimana sebaiknya managing globalization yang benar dan konkrit ketimbang Making Globalization Worknya Stiglitz? Teman-teman ada saran realistiskah? Kenapa globalisasi masih saja bias solusi? Ataukah semuanya tidak berkaitan dan bertentangan dengan sinyalemen teori konspirasi?

Tidak ada komentar: