02 April, 2009

TERDAMPAR DI PAPUA BARAT

Begitu terkesimanya terhadap Propinsi Papua Barat membuatku ingin menumpahkan semua campur aduk keheranan, keprihatinan dan keterkejutan terhadapnya. Pertama kali mendarat di Propinsi ini serasa mendarat di ujung dunia. Bagaimana tidak, sejak dari angkasa sudah terlihat sepotong landas pacu yang sangat dekat dengan Lautan (seperti di Jakarta dan Ambon juga sih). Namun landas pacu yang ini sangat pendek. Ngeri takut tercebur ke laut bila sang pilot gagal landing.

Setelah mendarat, kulihat sederet antrian panjang yang didominasi wanita dan anak-anak. Setelah menerobos mereka dengan susah payah, ternyata baru aku tahu bahwa mereka sedang mengantre obat-obatan gratis dari sebuah pesawat funding asing yang baru saja mendarat. Prihatin melihat kondisi mereka. Dan lebih terbelalak lagi begitu kulihat bandara kecil yang dipenuhi manusia itu ternyata hampir mirip (maaf) Puskesmas kabupaten kecil. Ada kalimat menarik di salah satu caution board, dilarang meludahkan pinang sembarangan. Konon, masyarakat pribumi masih suka mengunyah buah pinang? untuk menguatkan gigi. Namun mereka kerap meludahkannya di sembarang tempat, tak terkecuali di Bandara.

Tidak ada penjemputan khusus di Manokwari. Namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang berpakaian dinas Pemda setempat dengan mengendarai Hardtop datang menjemput. Senang berkenalan dengannya dan Kamipun segera akrab. Sesampainya di hotel tempat menginap, perjalanan disambung lagi dengan naik motor trail. Kali ini diantar oleh pegawai Satker Propinsi setempat. Duh, keramahan ini begitu menyegarkan dan memompa semangat meski Kami harus melewati jalan-jalan terjal dan berliku. Keakraban inilah yang menemani penyelesaian tugas hingga tiga hari kemudian. Membantu satker menyiapkan segala perlengkapan dan dokumen-dokumen, termasuk naskah sambutan Lokakarya Propinsi yang akan dibacakan Gubernur Papua Barat. Meski bukan pengalaman baru, namun terasa menyenangkan.

Belum lagi harus menyetir sendiri mobil yang dipinjamkan oleh Satker untuk memudahkan transportasi di seputar kawasan setempat. Lama-kelamaan jadi hafal jalan deh. Kantor Satker,hotel,Kantor Dinas PU,dan Kampus Universitas Negeri Papua Barat(tempat Kami numpang nge-net dan email). Eit, tapi jangan malam-malam pulang dari kantor satker. Selain bahaya Malaria mengancam, malampun datang dengan gulita karena listrik belum benar-benar mengaliri kawasan ini denan sempurna. Seringkali PLN mengurangi daya, karena bahan bakar generator yang berupa batubara dan solar menipis.Sehingga sebagian wilayahpun dipadamkan. Entah mengapa, Anjing-anjing menyambutnya dengan lolongannya yang riuh rendah. Bergidik juga mendengar.

Tiga hari berselang telah lewat. Lokakarya berjalan lancar. Sambutan Pemda terhadap upaya penanggulangan kemiakinan akan dilanjutkan oleh teman-teman Koordinator Kota dan jajarannya. Pemda setempat siap menerima desentralisasi penugasan. Singkat cerita Merpati Airways yang akan membawa Kami ke Ambon (transit Makasar) baru saja mendarat dari Jakarta. Namun alangkah terkejutnya, ternyata satu-satunya penerbangan yang tersebut, ditunda (delay) terbang karena mesin rusak. Sehingga Kamipun disediakan penerbangan besok untuk melanjutkan perjalanan......duh. Dan inilah Kami yang terdampar di Bandara bersama Team Leader Jakarta, teman-teman dari Malang dan utusan dari Sorong. Mungkin memang berat meninggalkan tanah ini sebelum berjanji menuntaskan tugas Kami, tapi tidak seberat rakyat Papua Barat yang tengah berjuang untuk merdeka sejah tahun 1945, 1949, saat pemekaran wilayah dan saat mengelola Otsus (Otonomi Khusus).

Selain dihadapkan pada berbagai isu separatisme, Rakyat papua barat juga dihadapkan pada banyak problematika yang semakin menegaskan spirit kami. Menanggulangi kemiskinan yang semakin ganas menyerbu di tanah ini dan segera bebaskan mereka dari keterisolasian pendidikan, kesehatan dan pengembangan sektor informal.....Don't worry Manokwari

Tidak ada komentar: