Dalam bukunya, Making Globalization Work, 2006, Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi mengkhawatirkan ketidakteraturan globalisasi dibawah kendali negara-negara maju yang gencar membebaskan pasar demi perusahaan-perusahaan besar yang bercokol di negaranya masing-masing. Pikir mereka, kiprah perusahaan besar pasti memacu meningkatnya devisa. Tidak jarang, demi devisa, negara mengacuhkan fungsi mendasarnya untuk mensejahterakan rakyatnya, sekalipun di negaranya sendiri. Sebab pikiran habis tercurah untuk mengembangkan sayap dagang belaka. Pikir para pebisnisnya, yang penting profit dan kelangsungan usaha tidak terganggu. Untuk mengamankannya, para pengusaha transnasional itu bekerjasama lintas batas negara dengan justru dengan menjual bendera negaranya masing-masing di meja-meja perundingan semacam GATT, WTO, G-20, G-8, etc.Nah, pengaturan yang dilakukan oleh Negarapun kian absurd dan menyimpang dari konstitusi karena tidak jelas ditujukan untuk kesejahteraan siapa. Kalangan borjuis menerima lebih banyak prioritas ketimbang kepentingan si marginal. Penumpukan capital yang didorong oleh bisnis para kapitalis itu merupakan situasi yang diamini oleh Wertheim (Third World, Whence and Wither, 1996). Praktek ini bahkan telah sejak lama diberlakukan oleh Inggis kepada India sejak 1760 di bawah Raja George III. Ekspor Garmen India ke Inggris dihabisi dengan berbagai aturan proteksi dan bea ekspor yang tinggi. Akibatnya Bengali sebagai pusat industri pemintalan benangpun jatuh miskin dalam sekejap karena praktek merkantilisme Inggris. Bagi Inggris, tak peduli mempermiskin India yang penting Inggris Raya selamat. Paradigma begini hingga kini tetap diikuti oleh Negara-negara industri maju. Bahkan saat krisis global financial menghajar, mereka belum juga tersadar.
Keserakahan membuat benefit yang akan didapat dari perlakuan eksplotatif berhenti sebatas orientasi interestnya. Implikasinya berbagai negara terpaksa mengikuti arus globalisasi hingga ke tingkat yang paling lokal. Hingga tidak ada desa-desa yang menonjol kharakter lokal dan tradisionalitasnya. Globalisasi telah mengintervensi kemandirian mereka dan menampilkan wataknya sebagai penjajahan ekonomi baru. Neo imperialism lintas batas.
Bangkit Melawan tak Terbelenggu Kotak
Bagaimana membebaskan diri dari belenggu imperialisme berkedok bisnis ini? Wertheim mengusulkan menguatkan masyarakat dalam konteks emansipasi. Tentu saja Emansipasi yang terkontrol jauh lebih disuka ketimbang partisipasi yang hanya terkotak pada perjuangan kelas yang mementingkan kelasnya sendiri sebagaimana diideologikan oleh Marx. Padahal ujung perjuangan harus terbuka bagi kepentingan yang lebih besar (tentu saja dengan difasilitasi Negara). Tidak melulu memperjuangkan kesadaran kelas bagi dirinya sendiri. Kalaupun menjadi pilihan, perjuangan tidak harus dari kelas dan bagi kelasnya sendiri. Perlu juga melihat kelas-kelas sebelah maupun sektor-sektor yang lain. Perjuangan kelas harus diperluas menjadi perjuangan sekolah, dan tidak harus lahir dari inisiatif kaum proletar, kalangan pekerja manufaktur.
Secara empiris perjuangan kelas di soviet juga bukan murni merupakan perjuangan kaum proletar industri, tapi dipandegani oleh para intelektual terpelajar. Simak saja bagaimana sepak terjang Trotsky di belakang Lenin sewaktu Revolusi Bolsevyik (Franz Magniz Suseno, Dalam Bayangan Lenin ; Enam Pemikir Marxisme dan Lenin sampai Tan Malaka, 2007). Superego keluar kelas
Jadi jangan khawatir buat teman-teman fasilitator kelurahan jika masih bermunculan ego sektoral relawan/anggota masyarakat untuk memperjuangkan nasib RW/RTnya masing-masing, atau teman-teman Korkot yang masih risau dengan dinas-dinas yang hanya mementingkan program dinasnya masing-masing tanpa mau belajar bersinergi, bahkan sebagian ngumpet dibalik dalih ’sharing activity’. Ternyata bagian dari sejarah panjang ketidakpedulian itu ada dan berlangsung dimana-mana termasuk dalam garis ideologi besar, globalisme, kapitalisme, maupun sosialisme. Asumsi kuat pengaruh sikap ’kacamata kuda’ ini buah dari kebiasaan egoisme kapitalis ....eh benar ngga ya?!
Psikoanalis, Sigmund Freud, bilang egois yang kita kenal dalam bahasa keseharian kita adalah wujud kebablasan id yang tak terkontrol oleh ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari manusia dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya segera memenuhi kepuasan. Sedangkan Ego berkembang dari id, sebagai struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Selanjutnya di atas Ego ada Superego yang bertugas merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Kapankah para kapitalist itu menyadari rasa salah ya? Apakah moralitas yang ada tidak cukup kuat menghambat? Mari bergegas kita tugaskan superego kita keluar kelas


1 komentar:
wah apik2 tenan tulisanya bos
Posting Komentar