31 Desember, 2008

HIJRAH UNTUK REINVENTING ERADICATION POVERTY

Refleksi sebelum berhijrah

Tahun Baru Hijriah telah datang, tiga hari berselang Tahun Baru Masehipun menjelang. Tak terasa usia bertambah. Harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baikpun membayang. Harapan positif dihimpun di awal tahun setelah introspeksi terhadap apa saja yang telah diraih di perjalanan tahun-tahun yang sudah lewat.


Berabad lampau, Rasulullah menetapkan diri mengajak kaumnya untuk hijrah dari kondisi yang kurang menguntungkan dengan memerangi kaum kafir quraisy. Sejak itulah, transformasi menuju keadaan yang lebih baik ditetapkan sebagai tonggak sejarah tahun baru Islam. Keluar dari belenggu kegelapan ditandai dengan kepindahan dari Makkah ke Madinah KH. Mustofa Bisri dalam artikelnya http://gp-ansor.org/opini/refleksi-1-muharam-1430-h-memisahkan-yang-beradab-dan-jahiliah.html"> menguraikan perdebatan penentuan starting point Muharram dalam tiga paragraf berikut.

Awalnya, penanggalan Islam bermula dari ide Amirulmukminin Umar Ibn Khatthab r.a.(586-644 M) setelah mendapat surat dari Abu Musa ‘Asy’ari r.a. (Gubernur di Kufah) yang mengeluhkan kebingungan, bahwa ia kerap menerima surat yang tidak bertanggal. Sang Amirulmukmininpun, mengumpulkan tokoh-tokoh sahabat -seperti sayidina Utsman Ibn ‘Affan dan sayidina Ali Ibn Abi Thalib- untuk diajak bermusyawarah mengenai penanggalan Islam.

Beragam pendapatpun bermunculan mengenai hari bersejarah apa yang akan dijadikan patokan bagi penanggalan Islam. Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ada yang sebaliknya, mengusulkan dimulai dari wafatnya; ada yang berpendapat sebaiknya dimulai dari saat Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Juga ada yang berpendapat sebaiknya dimulai dari saat Rasulullah SAW diisramikrajkan serta ada yang berpendapat sebaiknya alender Islam dimulai dari tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Akhirnya, usul yang terakhir itu yang menjadi keputusan. Dibandingkan dengan tonggak-tonggak sejarah dalam Islam yang lain, hijrah ke Madinah memang merupakan yang paling bermakna. Hijrah merupakan tonggak pemisah antara kondisi jahiliah di Makkah dan kondisi peradaban Islam di Madinah. Tonggak pemisah antara kekufuran dan iman; kemusyrikan dan ketauhidan. Atau, menurut istilah sayidina Umar r.a., merupakan pemisah antara yang haq dan yang batil.

Kali ini, kedua tahun baru tersebut (Masehi dan Islam) berlangsung dalam waktu berhimpitan. Berdasar penghitungan masehi, 1 Muharram jatuh pada tanggal 29 Desember 2008. Dua hari lebih dulu ketimbang 1 Januari 2009. Tahun 2012 mungkinkah berbarengan?

Hijrah Kemana?
Di penghujung tahun 2009, akal sehat semua orang niscaya berharap terjadi perubahan mendasar demi masa depan yang lebih baik. Tak terkecuali perubahan bangsa ini termasuk big hope dalam eradication of poverty, yang sedang berupaya reinventing konsepsi dasarnya. Benarkah telah berjalan sesuai relnya? Ataukah telah terjadi penyimpangan selama ini? Atau jangan-jangan telah terreduksi?

Beberapa pakar dalam tulisan seorang kawan dalam artikelnya mengatakan bahwa telah terjadi hibridasi dalam pengorganisasian program penanggulangan kemiskinan di UPP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-PNPM). Salah satunya melalui konsepsi kredit mikro, yang semula ditentang keras namun sekarang diakomodasi dan dikembangkan.

……..hybridization process in World Bank, not only the hybrid of its idea but also the interest transformation through the programs. The importance of this goal is to give the answer whether or not World Bank has a major neocolonialism interest, and this interest implement on the ground exactly as same as the modular form. How powerful is this institution can make everybody do whatever the Bank wants, and transform the idea and value as the same as whatever its understand it. Is World Bank has absolute control on that “WorldBankization” process? Fadhillah, World Bank’s Hybridization Case Study of World Bank’s Micro Credit Program (Urban Poverty Project/UPP) in Indonesia

Cita-cita muluknya adalah mengendalikan perubahan, memperkecil volume kemiskinan dan selalu lintas sektoral dalam bertindak. Kepala Ekonom Bank Dunia, William Wallace meramalkan angka kemiskinan di tahun 2009 akan turun menjadi 13,9 % jika menggunakan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi 4,1. Lebih baik ketimbang angka kemiskinan tahun 2007 yang 16,6.(andreas, mediaindonesia.com) Siapapun yang tampil menjadi leading sector paradigma lawas sektorisasi hendaknya ditinggalkan jauh-jauh di belakang. Kata klise yang harus diturutsertakan adalah sinergi. Menghadapi krisis financial global saja pedal gas sinergisasi ditancap penuh, apalagi menghadapi yang level local.

Pesimiskah Menghadapi Ramalan?
Oleh sebab itu dalam konteks inilah hijrah kita sekarang harus terinspirasi oleh hijrah Rasul. Pertama, berpindah menuju kemuliaan dan yang kedua selalu berproses as syura (musyawarah) dalam setiap penyelesaian soal. Ingat ayat ini? Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.QS. as-Syura (42) : 38. Cocok deh dengan perjuangan moral universal.

Menuju kebahagiaan dan kesejahteraan bersama tidak dapat ditentukan secara despotic dan otoriter melainkan selalu bermusyawarah, terutama untuk mengidentifikasi tujuan strategisnya. So, di atas segala kekurangan tahun-tahun yang lalu, mari kita bersama-sama berhijrah mencari kelebihan menuju kemuliaan. Memformulasikannya dalam ruang teknis dan mengkonkretisasikan yang awang-awang. Terlepas dari parameter hijriyah atau masehi, berbagai ramalan lain masih mengkhawatirkan banyaknya jeritan keluarga miskin di tahun 2009/1430 H kelak akibat krisis financial global.

Tidak ada komentar: