25 Oktober, 2008

Meminjam Kekuatan Komunitas

Memory kita kembali di-reminder pada tragedi bom Bali I. Kepedihan keluarga korban seolah terobati menyusul berita Imam Samudera dkk akan segera dihukum mati awal November ini. Peristiwa tragis yang menewaskan lebih dari 200 orang tersebut sekaligus membangkitkan kembali empati kemanusiaan yang lintas batas kebangsaan. Kondisi hampir serupa juga dialami sebagian besar warga dunia ketika didera krisis ekonomi global. Kerisauan akibat krisis menegaskan perlunya direview kembali praktik liberalisasi perdagangan yang kian mereduksi kearifan lokal. Sebagian penganut neoliberal telah berpikir untuk mengoreksi sepak terjang mereka yang tak berempati. Jika warga yang tidak saling mengenal saja bisa saling bersimpati karena keadaan, mengapa tidak dicoba sebuah program dikelola dengan manajemen empati? Bukankah solidaritas adalah komponen dasar yang dapat diandalkan dalam pembangunan manusia?
Memang, solidaritas ditumbuhkan dari keluarga. Sifat interaksi keluarga bermakna penting dalam memberi nuansa pada pola hubungan masyarakat. Atmosfir kekeluargaan sinonim dengan kharakter masyarakat agraris yang memegang teguh nilai-nilai paguyuban(gemeinschaft). Kelahiran masyarakat pedesaan dimulai dari level terkecil ini. Perjalanan sebuah keluarga kecil menjadi keluarga yang lebih besar akan diikuti oleh transformasi nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Secara bertahap keluarga berkembang menjadi komunitas, dan komunitas berkembang menjadi masyarakat.
Fase-fase tersebut otomatis memindahkan nilai-nilai kekerabatan, yang semula hanya tumbuh di dalam keluarga, menjadi nilai-nilai komunitas. Fenomena demikian banyak dijumpai dalam komunitas adat, komunitas keagamaan, maupun komunitas kultural masyarakat rural. Tingginya frekuensi pertemuan tatap muka antar individu dalam komunitas kian mengakrabkan satu sama lain layaknya saudara sedarah. Sekecil apapun persoalan dan kebahagiaan senantiasa dibagi dan dirasakan bersama.

Gesekan dan curhat adalah fenomena yang tak terpisahkan dalam membangun komunikasi. Awalnya berasal dari hal yang remeh-temeh. Perbincangan-perbincangan keseharian lambat laun membangun rasa, empati dan kepedulian antar anggota komunitas. Ruh spiritualitas dan kultural adalah pengikat batin (kohesivitas) yang memerlukan rutinitas pengejawantahan melalui medianya sendiri, sebagaimana terlihat dalam kelompok-kelompok pengajian, perwiridan, kebaktian, tahlil, manakiban, arisan, kelompok tani, nelayan, maupun paguyuban seni budaya.

Kelebihan komunitas-komunitas ini layak dimanfaatkan menjadi wahana penting dalam pembangunan manusia, mengingat ikatan yang berlandaskan pada hubungan genealogis hampir pudar di sebagian besar wilayah bangsa ini. Sifat saling memperhatikan, saling menjaga dan saling mempedulikan adalah kekuatan pengintegrasi. Khalayak luar akan mudah mempercayai komunitas yang terintegrasi nilai-nilainya, sebab di dalamnya kontrol sosial dapat berlangsung lebih terbuka. Tatkala individu terikat secara emosional dan warung kopi atau paguyuban sejenisnya mulai marak dibutuhkan sebagai media sambung rasa, maka disinilah demokrasi mulai menemukan jalan terangnya.

Idealnya, program apapun yang difasilitasi pemerintah hendaknya dijalankan berlandaskan pada kerekatan hubungan sosial. Orisinalitas ikatan ideologis dan budaya menjadi orientasi kebijakan pembangunan segala bidang, dengan manusia sebagai aktor utamanya. Manusia adalah pemegang kendali keberlanjutan (sustainability) dan penentu kemakmuran diri serta lingkungannya. Beberapa tahun belakangan ini pemerintah mulai melirik pembangunan berdimensi manusia yang memposisikan program sebagai bagian dari langkah edukasi yang memanusiakan manusia.

Kohesivitas yang dimiliki oleh komunitas tak tergantikan oleh media apapun sebab sesungguhnya empati hanya terasah melalui perjumpaan langsung. Padahal di sebagian masyarakat perkotaan telah terjadi pergeseran pemaknaan mengenai gotong royong. Kalaupun masih ada, sudah berbeda bentuknya akibat tergerus modernisasi. Sumbangan uang telah menggantikan solidaritas sehingga partisipasi dan kontrol sosial tidak berkembang wajar berbasis nilai kemanusiaan. Hal ini nampak dari kewajiban ronda dan kerjabakti untuk kepentingan kampung telah digantikan dengan iuran. Atau pertemuan warga yang diwakilkan kepada ajudan maupun suruhan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk bertemu demi saling membangun rasa.

Namun di sisi lain, dengan segala keterbatasannya, nilai-nilai kekeluargaan pada komunitas urban mulai digali dan dihidupkan kembali kendatipun terorganisasi dalam bentuknya yang khas seperti kelompok arisan, perkumpulan profesi maupun kelompok hoby. Sebuah semangat yang berbeda dengan masyarakat desa. Namun apapun bentuknya, program dinilai lebih teruji jika sosialisasinya diproses secara partisipatif melalui komunitas. Oleh sebab itu pemerintah mencoba mensosialisasikan program lewat pertemuan komunitas.

Salah satunya adalah program penanggulangan kemiskinan. Sebab paradigma penanggulangan kemiskinan diyakini berkorelasi dengan penumbuhan kembali nilai-nilai sosial komunitas seperti kejujuran (honesty), kepercayaan (trustworthiness), solidaritas sosial (social solidarity) dan responsibilitas sosial (social responsibility). Ketiganya berfungsi saling memperkuat kohesivitas yang berperan menjaga jaringan interaksi sosial (social networking). Masing-masing nilai komunitas tersebut adalah komponen modal sosial.

Ikatan sosial yang kokoh hanya dapat dibangun oleh jaringan sosial yang mengakar. Modal sosial dibentuk melalui kebersamaan (kolektivitas) dan solidaritas antar individu. Selain menumbuhkan saling percaya antar anggota komunitas (Putnam dalam Shoemake,2006), keadaan ini juga membangkitkan kepercayaan (trust) berbagai pihak luar kepada komunitas tersebut. Pada waktunya nanti, komunitas berpeluang membangun jaringan eksternal dengan berbagai pihak terkait dalam mengakses sumberdaya luar agar semakin mendorong pengembangan potensi internalnya. Produktivitas sosial adalah salah satu tujuan komunitas bermodal sosial (Partha Dasgupta and Ismail Serageldin, 2000: 3).

Masyarakat yang tidak memiliki jaringan kerjasama akan kesulitan memperoleh kesetaraan dan kehilangan kesempatan untuk menjadi masyarakat kompetitif. Modal sosial adalah keharusan imperatif yang mesti dimiliki oleh masyarakat yang menginginkan kehidupan demokratis sejalan dengan perkembangan kesejahteraan kehidupannya (Budi Rajab, 2005). Pembangunan yang mengedepankan aspek kemanfaatan strategis hendaknya membangkitkan modal sosial sebagai sarananya. Masyarakat Sipil (Civil Society) yang dicita-citakan Dahrendorf itu sekarang mulai terbentuk dan diakui oleh negara.

Pengakuan negara adalah realisasi kewajibannya untuk melibatkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pembangunan. Secara etimologis, Negara terdiri dari wilayah, rakyat dan pemerintah berdaulat. Pencapaian kemakmuran wajib diproses melalui dialektika antara pemerintah dan rakyat dalam mengelola wilayah. Sejauh ini, pemerintah masih seringkali berpersepsi tunggal dan mengabaikan rakyatnya dalam memaknai kesejahteraan. Di sinilah hubungan partnership dalam pengambilan keputusan diperlukan dan selanjutnya pemerintah hanya berfungsi melayani pada tahap implementasi. Bukan justru ramah pada kalangan terbatas agen globalisasi kapitalistik sebagaimana terlihat pada layanan pengembangan pusat-pusat perbelanjaan, pertambangan, kehutanan, pertanian maupun eksplorasi perikanan atas nama kepentingan umum dengan mempecundangi rakyat miskin.

Dalam pembangunan, kepercayaan adalah indikator utama. Keberhasilan komunikasi pembangunan sangat tergantung pada siapa yang menyampaikan, sebab pemerintah sebagai pemegang kebijakan belum tentu mampu menyelami motivasi dan interaksi komunitas mengingat sejarah panjang fasilitasinya selama ini. Solusi terbaik adalah meleburkan pesan kepada komunitas sehingga tercipta dialog alamiah sebelum kebijakan dirumuskan. Harapannya komunikasi tidak hanya terbangun di level internal komunitas melainkan juga di antara komunitas dengan pemerintah. Penyampaian pesan harus diawali oleh seseorang maupun kelompok dalam satu golongan (peer group). Secara empiris hal ini dinilai lebih berhasil membangun keyakinan komunitas karena bertolak pada track record penyampai pesan. Pemerintahpun akan terbenahi kredibilitasnya jika kerap berinteraksi dengan masyarakat dan tidak ada kata sepihak dalam memutuskan.

Orientasi membangun organisasi masyarakat warga (civil society) adalah mendorong kemandirian masyarakat agar mampu merancang, melaksanakan, memecahkan masalah dan mengevaluasi aktivitas kolektifnya berbasis pada potensi modal sosialnya. Kolektivitas kerjasama antar individu dalam komunitas dan antar komunitas dalam masyarakat akan mempermudah mekanisme penumbuhan kesadaran untuk saling terbuka (transparan) dalam berpendapat maupun berbeda pendapat. Untuk mengarahkan pembangunan yang memanusiakan (humanisasi), mekanisme civil society yang mengedepankan interaksi partisipatif dalam demokratisasi dikembangkan ke arah pengawasan sosial (kontrol sosial) terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dibuat untuk dipertanggungjawabkan kembali kepada masyarakat (akuntabilitas publik). Pemerintah juga mesti belajar menghindarkan diri sebagai pelaku tunggal pembangunan jika menginginkan kecerdasan masyarakat sebagai tumpuan untuk mencapai kesejahteraan.

Kaidah demokratisasi tidak sulit ditradisikan karena potensi pemersatu telah menjadi kultur yang melekat pada komunitasnya. Niscaya kita semua akan mendapatkan manfaat strategis jika meletakkan potensi kemandirian sosial sebagai salah satu anasir pembangun bangsa. Lambat laun bangsa harus senantiasa bergerak dan dibangun oleh kesatuan jaringan berbagai komunitas. Pada beberapa program, pelabelan institusi komunitas oleh pemerintah hanyalah kelanjutan upaya untuk merevitalisasi kondisi yang sudah berjalan. Program pemerintah hanya meminjam potensi modal sosial komunitas untuk dikokohkan kembali (revitalized) dan dilembagakan kembali (reinstitutonalized) untuk meraih keadilan dan kesejahteraan yang telah lama didamba. Namun jangan lupa bahwa Komunitas pemilik modal sosial bisa meminta kembali eksistensi komunitasnya jika ternyata dikhianati oleh aktor-aktor pembangunan yang telah dipercaya untuk mewakili mereka.

PeNuhi KalSiuM dAri BeRbagAi SumBeR




Sebenarnya, osteoporosis adalah proses yang alamiah. Namun, seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup manusia, osteoporosis menjadi problem. Tanpa didukung tulang yang kuat, dikhawatirkan seseorang akan menjadi "bayi besar" di masa tuanya. Toh, bagi kalangan industri, osteoporosis adalah berkah. Amati saja, betapa banyak produk susu rendah lemak dengan kandungan kalsium tinggi. Bahkan ada yang mengiklankan dengan cara yang kurang proporsional: mampu mengobati osteoporosis. Promosi ini pun makin memantapkan pemahaman bahwa kalsium hanya ada di susu.

Efektif jika tersengat matahari
Kalsium memang erat kaitannya dengan kesehatan tulang sebab mineral inilah yang membentuk tulang. Selain itu, peranannya terhadap gigi juga tak bisa diabaikan. Sembilan puluh sembilan persen kalsium dalam tubuh disimpan dalam tulang dan gigi. Sisanya tersebar di darah dan jaringan lunak, yang memiliki peran sangat penting. Tanpa adanya kalsium, otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku, dan saraf tidak dapat membawa pesan.
Hebatnya lagi, penelitian terkini yang dilakukan oleh beberapa lembaga menyimpulkan bahwa manfaat kalsium jauh melebihi yang diperkirakan orang. Hector De Luca, pakar biokimia Universitas Wisconsin, AS, sudah mewanti-wanti untuk tidak kaget dengan peranan kalsium yang begitu banyak.Salah satu peran penting kalsium adalah dalam meringankan sindrom pramenstruasi (PMS). Kesimpulan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh dr. Susan Thys-Jacobs, pakar kelenjar endokrin dari St. Luke’s-Roosevelt Hospital Center di New York, bersama rekan-rekannya dari 11 pusat medis di AS, terhadap 500 orang wanita penderita PMS. Secara acak, sebagian dari 500 wanita itu diberi 1.200 mg kalsium per hari. Ternyata, pada siklus haid ketiga, gejala PMS bisa dikurangi 48% pada wanita yang menelan kalsium.
Hanya saja, kalsium akan bekerja efektif setelah kulit terkena sengatan singkat radiasi ultraviolet-B. Paparan sinar matahari memang merangsang produksi vitamin D. Vitamin ini diketahui berfungsi sebagai pembuka kalsium untuk masuk ke dalam aliran darah, sampai akhirnya menyatu di dalam tulang. Nah, menghindari sinar matahari karena takut hitam ini disinyalir menjadi penyebab kasus osteoporosis di Indonesia tergolong tinggi. Padahal Indonesia merupakan wilayah tropis. Ketakutan ini ditambah dengan pola hidup karyawan di perkotaan yang kurang mendapat sinar matahari. “Berangkat kerja ketika matahari belum naik, seharian berada di dalam kantor, dan pulang ke rumah setelah gelap,” kata dr. Ichramsjah A. Rahman, D.S.O.G. Padahal, sengatan yang dibutuhkan tak terlalu lama. Umumnya, sekitar 15 menit sinar matahari langsung sudah cukup untuk kebutuhan sehari.
Keperkasaan kalsium juga teruji dari kesimpulan penelitian yang tertuang dalam New England Journal of Medicine, 1993. Disimpulkan bahwa asupan kalsium tinggi (di atas 850 mg) bisa mengurangi risiko gejala batu ginjal. Hal ini karena kalsium memiliki efek protektif dengan mengikat oksalat di usus dan mencegah penyerapan oksalat yang bisa membentuk batu.
Yang lebih penting lagi, kalsium juga berpengaruh terhadap masa depan kesehatan bayi. British Medical Journal melaporkan hasil penelitian pada wanita yang diberi suplemen kalsium selama masa kehamilan. Hasilnya, para ibu tersebut akan memiliki anak-anak yang cukup terlindungi dari risiko hipertensi.

Tak hanya dari susu
Sepanjang hidup kita membutuhkan kalsium. Mulai dari bayi sampai usia tua dengan jumlah kebutuhan yang berbeda-beda. Demikian juga dengan jenis kelamin membedakan asupan. Menurut Siti Fatimah Moeis, M.Sc., dokter dan ahli gizi lulusan University of London, angka kecukupan kalsium rata-rata yang dianjurkan di Indonesia adalah 500 – 800 mg per orang per hari. Pada usia lanjut dan wanita menopause para ahli cenderung menganjurkan asupan sampai sekitar 1.000 mg/hari.
Susu memang memiliki kandungan kalsium yang cukup banyak. Susu kambing 98 mg/100 g, susu kerbau 216 mg/g, susu bubuk full cream 895 mg/gr, susu bubuk skim 1.300 mg/gr, dan keju 777 mg/g.
Kalsium bisa diperoleh dari sayuran hijau (bayam misalnya), buah-buahan, brokoli, serta tempe dan tahu. Juga makanan laut. Fatimah mengungkapkan, kandungan kalsium dalam bahan makanan kacang-kacangan dan ikan cukup besar. Antara lain, 100 g kacang kedelai basah memiliki 196 mg kalsium, 100 g kacang kedelai kering mengandung 227 mg kalsium, bahkan dalam 100 g sari kedelai bubuk terdapat 450 mg kalsium (tetapi dalam 100 g sari kedelai cair hanya terdapat 50 mg). Angka yang lebih besar diperoleh dari bungkil kacang tanah (730 mg). Sedangkan tempe kedelai murni 129 mg dan tahu 124 mg.
Dari kancah sayuran hijau bisa dipilah: daun lamtoro 1.500 mg, daun kelor 440 mg, bayam merah 368 mg, bayam hijau 267 mg, daun talas 302 mg, dan daun mlinjo 219 mg. Untuk makanan laut bisa dipilih rebon kering (udang kecil) yang sarat kalsium, yakni 2.306 mg/100 g; rebon segar 757 mg; udang kering 1.209 mg kalsium; udang segar 136 mg kalsium; teri kering 1.200 mg; teri segar 500 mg.

Disertai makanan
Menjamurnya suplemen kalsium dan susu kalsium tentu perlu disikapi dengan bijaksana. Kelebihan asupan kalsium memang tidak berpengaruh banyak, kecuali bagi mereka yang berisiko batu kalsium. Konsumsi sehari-hari sampai 2.500 mg masih dianggap aman. Kalsium sisa yang tidak digunakan tubuh akan dikeluarkan melalui urine dan tinja.
Jika dari makanan sehari-hari asupan kalsium kurang, suplemen sangat membantu. Dari uji coba yang dilakukan, suplemen kalsium bisa ditoleransi tubuh dengan baik. Bahkan pengujian yang dilakukan terhadap 2.295 wanita hamil dengan dosis 2.000 mg tidak menimbulkan efek sampingan yang berarti.
Memang, beberapa orang mungkin akan mengalami kembung (bloating) atau sembelit ketika mulai minum suplemen. Kejadian ini memang tercatat dalam beberapa penelitian. Bagi mereka yang mengalami gejala seperti itu, mulailah dengan dosis rendah, lalu perlahan-lahan ditingkatkan sampai sesuai dengan asupan yang diperbolehkan.
Yang perlu diperhatikan, ada tiga jenis suplemen kalsium: kalsium karbonat, kalsium sitrat, dan kalsium fosfat. Nah, sebuah penelitian membandingkan ketiga kalsium itu dengan plasebo (materi bohongan). Tujuannya untuk melihat seberapa jauh pengaruhnya terhadap soal kembung. Ternyata kalsium sitrat menunjukkan level yang tinggi, sedangkan kalsium karbonat sama atau sebanding dengan plasebo.
Kalsium karbonat memang paling banyak digunakan dalam suplemen. Jenis ini paling baik diserap ketika dicerna bersama makanan. Berlawanan dengan itu, kalsium sitrat justru penyerapananya paling baik jika dicerna tanpa makanan. Pada manusia normal, penyerapan dua jenis kalsium itu tidak banyak berbeda dan sebaik penyerapan kalsium dari susu. Pada sejumlah kecil individu dengan achlorhydria (tidak ada asam pencernaan), kalsium sitrat lebih baik penyerapannya.
Efek sampingan yang harus diperhatikan justru berasal dari bahan-bahan nonkalsium dalam suplemen itu. Konsumen harus melihat label dan apakah produknya sudah sesuai dengan standar yang berlaku.

Faktor makanan
Dalam kaitannya dengan perkembangan anak, tak kalah pentingnya adalah memperhatikan asupan zat gizi. Tak heran kalau ada produk susu yang mencantumkan kalimat “Diperkaya dengan kalsium dan zat besi”. Menurut Prof. Dr. dr. H. Ponpon S. Idjradinata, D.S.A.K, dari FK Unpad, asupan zat gizi erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan seseorang. Hal itu terungkap dari pengamatan sekitar 200 bayi penderita Anemia Kekurangan Besi (AKBe) berusia 12 – 24 bulan. Umumnya, Indeks Perkembangan Mental (IPM) dan Indeks Perkembangan Psikomotorik (IPP) anak-anak itu di bawah normal. Skornya hanya 80, sedangkan anak normal 100.
Dalam kerja otak, zat besi dibutuhkan untuk proses metabolisme. Jika kebutuhan zat besi kurang, metabolisme otak bisa terganggu. Akibatnya, enzim-enzim yang dipakai untuk memperlancar kerja otak juga berkurang. Lebih jauh hal itu membuat transfer energi rangsangan ke otak pun menjadi terhambat. Padahal energi ini sangat diperlukan dalam menjalankan impuls-impuls saraf dalam otak. Karena impulsnya tidak berjalan dengan baik, maka ketajaman reaksi otak saat menerima rangsangan pun menjadi berkurang.
Kekurangan zat besi pada anak sudah menjadi ancaman serius. Apalagi di saat krisis seperti ini. Menurut Ponpon, prevalensi AKBe untuk bayi berusia di bawah dua tahun sudah lebih dari 52%. Ini terlalu tinggi dibandingkan dengan Amerika yang 3%, misalnya. Sementara prevalensi bagi ibu hamil juga masih tinggi, sekitar 40%. Demikian pula dengan wanita pekerja, yang sekitar 30%.
Ponpon melihat, penyebab prevalensi kekurangan besi umumnya adalah faktor makanan. Salah satu sebabnya adalah banyaknya bayi yang diberi susu kaleng. Padahal, kadar nutrien besi yang bisa terserap bayi dari susu itu hanyalah sekitar 5 – 10% dari jumlah seluruhnya. Sementara jika bayi diberi ASI, jumlah zat besi yang terserap usus bisa mencapai 50%.
Pada kalangan dewasa, kekurangan zat besi disebabkan kecilnya konsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi. Jenis makanan yang banyak mengandung zat besi adalah daging dan protein hewani lainnya. Harganya yang mahal, terlebih di zaman krisis, membuat peluang untuk mengkonsumsi makanan itu berkurang.
Di lain pihak, seperti yang disimpulkan Sri Rahayuningsih dalam disertasinya, pengetahuan para ibu yang tengah mengandung tentang anemia masih kurang. Padahal sikap terhadap materi pendidikan gizi dan pemeriksaan kehamilan sudah cukup baik. Hasil penelitian itu juga mengungkapkan bahwa rata-rata zat gizi ibu hamil masih di bawah jumlah yang dianjurkan.
Yang agak mengejutkan dari penelitian disertasi tersebut ialah adanya prevalensi anemia non-defisiensi besi 32,9% pada awal penelitian dan 28,4% pada akhir penelitian. “Anemia tidak hanya disebabkan oleh defisiensi zat besi, bahkan anemia non-defisiensi zat besi ini cukup tinggi, sekitar 25%,” Sri mengingatkan. Maka penanggulangan anemia harus lebih tepat dan menyeluruh.

Kurangi minum Teh
Berbeda dengan kalsium, zat besi jika kelebihan akan menyebabkan persoalan. Kelebihan pasokan zat besi akan disimpan di beberapa bagian dalam tubuh. Bisa di dalam hati, jantung, pankreas, persendian, dll. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan kerusakan jaringan secara permanen.
Jika sudah kelebihan, cara terbaik membuang kelebihan zat besi adalah melalui bloodletting (pengeluaran darah). Ini adalah tindakan dokter di mana setetes kecil darah tiap satu atau dua minggu dalam setahun dikeluarkan. Selewat itu kemudian dilakukan sekali setiap beberapa bulan. Pada wanita, menstruasi merupakan cara alamiah yang membantu. Namun, ini belum 100% melindungi mereka.
Kekurangan zat besi yang banyak diderita orang Indonesia, menurut Ponpon, umumnya disebabkan oleh faktor makanan. Jika zat besi sulit terpenuhi dari makanan sehari-hari, suplemen tentu sangat membantu. Untuk anak-anak bisa dilakukan dengan penambahan sirup besi. Hal ini sudah dikembangkan pemerintah sejak 1996 untuk masyarakat tertinggal. Sementara untuk orang dewasa digunakan pil besi. Ini pernah dilakukan terhadap tenaga kerja wanita selama menstruasi.
Hanya saja, seperti yang diingatkan oleh Ponpon, masyarakat jangan terlalu banyak minum air teh. Sebab air teh bisa menurunkan kemampuan usus dalam menyerap zat besi. Untuk anak-anak, Ponpon menyarankan lebih baik minum air putih biasa dibandingkan dengan minum teh.
Untuk penggunaan suplemen, overdosis bisa menyebabkan orang dewasa jadi sakit dan anak kecil meninggal. Maka konsumsilah yang wajar.

23 Oktober, 2008

Kontribusi Kredit Mikro dalam Pemberantasan Kemiskinan

A. Pertumbuhan Ekonomi Milik Siapa?

GB mengedepankan microcredit sebagai kebijakan bagi masyarakat marginal, terutama perempuan. GB adalah Bank yang dikelola secara independen oleh warga miskin dan menolak intervensi sistem perbankan konvensional karena secara ideologis, GB berposisi di kiri terkait dengan preferensi pada kesejahteraan nasabah-nasabahnya sebagaimana konsepsi koperasi. Namun GB tidak anti kanan karena tidak menolak globalisasi dan pasar bebas asal mengikutsertakan si miskin. Jalan tol globalisasi tidak seharusnya dikuasai oleh truk-truk raksasa negara-negara maju dengan menyingkirkan becak-becak di negara dunia ketiga. Kredit mikro didasari asumsi bahwa kewirausahaan tidak harus melulu profit, melainkan sebuah investasi yang digerakkan oleh kesadaran sosial.

Kredit mikro adalah salah satu lokomotif penggerak pertumbuhan ekonomi. Sebagian pendapat mengatakan bahwa kredit mikro berfungsi sebagai minyak pelumas dari mesin pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan GNP. Padahal seharusnya pertumbuhan diukur melalui target-target pengurangan jumlah penduduk miskin dan layanan terhadap mereka. Pembangunan harus bersandar pada isu HAM sehingga harus didefinisikan ulang mengacu pada pendapatan perkapita 50 % populasi termiskin, bahkan kalau perlu 25 % kualitas hidup populasi terbawah terangkat.

Kritikus sering mengatakan bahwa kredit mikro tidak memberikan kontribusi significant terhadap pembangunan sebuah negara. Yunus membantahnya dengan analogi kereta api yang sering dipakai dalam menganalisis strata sosial ekonomi manusia. Kereta api ditarik oleh lokomotif yang terletak di depan atau didorong dari belakang, atau keduanya.

Namun sebenarnya masyarakat memiliki mesin sendiri-sendiri. Oleh sebab itu gabungan kekuatan seluruh mesin akan mendorong seluruh perekonomian maju. Strata sosial di gerbong-gerbong belakang tidak boleh lepas kendali, sehingga harus didorong oleh lokomotif yang disebut dengan kredit mikro. Logikanya, dorongan lokomotif ini akan membuat kereta bertambah laju, bukannya melambat. Sesuatu yang gagal dilakukan oleh sebagian besar proyek-proyek pembangunan. Selama ini investasi bendungan, pembangunan jalan, jembatan, pembangkit listrik dan bandara meningkatkan efisiensi mesin-mesin di gerbong kelas satu berlipat-lipat, namun apakah otomatis meningkatkan kapasitas mesin di gerbong belakang? Belum pasti.

B. Jalan Terjal Interaksi GB dengan WB
Sam Daley Harris, direktur eksekutif RESULT bersama John Hatch dari FINCA dan Yunus mulai mereka-reka target ambisius untuk menggapai 100 juta keluarga termiskin terlibat dalam kredit mikro dalam 10 tahun kedepan (1996-2005). Visi tersebut kemudian dideklarasikan dalam Pertemuan Puncak Kredit Mikro (Micro credit Summit) yang digelar pada tanggal 2-4 Februari 1997 di Washington D.C. 3000 orang dari 137 negara hadir menyaksikan sambutan Hillary Clinton, Ratu Sofia (Spanyol) dan Tsutomu mantan PM. Jepang. Hillary mengatakan bahwa :


Kredit mikro bukan hanya soal memberi orang peluang ekonomi. Ini menyang-
kut komunitas, tanggung jawab dan cara pendang tentang bagaimana kita semua saling terhubung dan tergantung di dunia masa kini. Ini adalah pengakuan bahwa negara kami, nasib para penerima tunjangan kesejahteraan di Denver atau Washington terjalin tak terelakkan dengan kita semua. Ini soal pemahman tentang bagaimana mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan di India atau Bangladesh akan memantulkan kembalimanfaatnya bagi seluruh komunitas dan menciptakan ladang subur agar demokrasi bisa hidup dan bertumbuh, karena masyarakat memiliki harapan dan masa depan.

Yunus terharu dengan kehadiran para kepala negara dalam konferensi tersebut, termasuk perwakilan lembaga-lembaga donor, praktisi, perusahaan, lembaga keuangan internasional, ornop, dewan pendukung dan anggota-anggota parlemen. Dalam pidatonya, ia menegaskan tekadnya untuk menggapai target karena kredit adalah HAM, bagian paling strategis dalam penanggulangan kemiskinan. Ia telah melihat sendiri fakta tersebut dengan ’mata cacing’. Yang lebih menggembirakan pada pertemuan itu adalah bagaimana komitmen menghapuskan kemiskinan melalui kredit mikro digalang oleh seluruh pihak terutama lembaga-lembaga donor (WB,UNDP, Unicef, UNFPA, Unesco, USAID dan IFAD). Jim Wolfensohn turut hadir di antara mereka dan berkomitmen sama untuk mengimplementasikan kredit mikro dalam program WB.

Padahal beberapa tahun sebelumnya, pada 1986, cek-cok hebat terjadi dengan Conable (Presiden WB saat itu) ketika Yunus diundang oleh Patricia Young pada teleconference peringatan Hari Pangan Sedunia yang disiarkan ke 30 negara. Yunus menolak keras klaim Conable yang menyatakan bahwa WB selama ini telah memberikan bantuan untuk Grameen hingga ia terpaksa menghardiknya bahwa mempekerjakan ekonom-ekonom pintar tidak otomatis melahirkan kebijakan yang menguntungkan kaum miskin dan Yunus tidak menyukai cara berbisnis WB yang kerap mengambil alih proyek yang mereka danai. Grameen pernah menolak pinjaman lunak US$200 juta dari WB karena disertai intervensi baik terhadap Grameen maupun Pemerintah Bangladesh mengenai bagaimana harus mengelolanya.

Proyek Dungganon sebagai replikasi Grameen untuk menangkal gizi buruk anak-anak di pulau Negros Filipina pada tahun 1989 pernah mengajukan bantuan kepada PBB, namun tidak pernah terrealisasi meskipun empat misi untuk meneliti proposalnya telah dikirimkan dengan segala tetek bengek birokrasinya. Sampailah ia pada kesimpulan bahwa cara kerja lembaga donor multilateral telah salah arah. Bisnis konsultan mengasumsikan bahwa negara-negara penerima bantuan perlu dibimbing pada setiap tahapan proses mulai identifikasi, persiapan, pelaksanaan. Donor dan konsultan sering bertindak arogan dan melumpuhkan inisiatif-inisiatif lokal.

Pasca perseteruan 1986 tersebut, Grameen menegaskan untuk tetap menolak diajari menjalankan kredit mikro oleh WB. Akhirnya WB memutuskan untuk membentuk organisasi kredit mikronya sendiri di Bangladesh dengan memadukan metode grameen dan metode program kredit mikro lainnya. Karena ide tersebut dianggap tidak realistis maka Pemerintah Bangladesh menolaknya, hingga WB tersinggung dan mencoret Bangladesh dari dokumen proyek untuk ditawarkan kepada Sri Lanka. Sejak itu Yunus mulai mempelajari sepak terjang lembaga donor dalam penggelontoran uang ke Bangladesh melalui berbagai cara termasuk mekanisme penyuapan. Di sisi lain, sebagian besar uang itu dimanfaatkan untuk pembelanjaan barang dan infrastruktur dari luar negeri yang tidak terkait langsung dengan pengentasan kemiskinan.

Kritik terhadap WB yang tiada habisnya membuat wartawan USA menanyakan apa yang dia lakukan seandainya Yunus menjadi Presiden WB. Jika Lewis Preston (Presiden WB saat itu) menegaskan bahwa tujuan utama WB adalah memerangi kemiskinan dunia maka sebaiknya Kantor Pusat WB dialihkan ke Dhaka. Dikelilingi oleh orang-orang yang menderita dan miskin memungkinkan WB bisa mengatasi masalah lebih cepat dan realistis sekaligus menyaring orang-orang yang benar-benar fokus pada kinerja memerangi kemiskinan. Alasan lain adalah efisiensi, karena gaji di Dhaka jauh lebih murah.

Jalan menuju akur dengan WB tidaklah mudah, namun independensi GB selalu menarik minat banyak pihak untuk mendonorkan pinjaman jangka panjang dengan skema terlunak. Salah satu yang tertarik adalah mantan mitra Yunus saat menjadi Dewan penasihat Aga Khan Foundation di Geneva, Ismail Serageldin. Kendatipun saat itu telah menjadi wakil presiden WB, namun kepekaannya sebagai akademisi terhadap orang miskin masih sangat besar. Awalnya Yunus tidak yakin jika WB mau bekerjasama dengan GB, karena WB selalu bekerjasama dengan pemerintah. Negosiasipun terjadi tahun 1993. Sebelumnya GB kerapkali kesulitan mengalang dana internasional untuk kepentingan peningkatan kapasitas, terutama bagi cabang-cabang GB di luar Bangladesh. Maka didirikanlah Grameen Trust. Lobi sana-sini untuk menggalang dana hanya disambut USAID dengan US$ 2 juta, padahal kebutuhannya US$ 100 juta. Akhirnya disepakati, WB menghibahkan US$ 2 juta tanpa jaminan pemerintah (karena Yunus biasanya selalu menolak intervensi dan kompensasi pinjaman dana WB). Dana tersebut berasal dari dana serbaguna (discretionary fund) presidennya. Untuk menambah dana, Ismail membentuk CGAP (Consultatif Group Agrichulture Program) dengan dana hibah US$ 30 juta dari WB. Yunus ditawari posisi Ketua Kelompok Penasihat Kebijakannya. Dengan posisi itu Yunus mudah berhubungan dengan kelompok praktisi dan lembaga donor dan bekerjasama menetapkan langkah global kredit mikro.

Melalui CGAP inilah Yunus leluasa mengegolkan misinya, termasuk menyuntikkan dana ke tiga replikasi utama GB, yaitu CARD (Filipina), ASHI (Filipina), SHARE (India), dan Dungganon (Filipina). Replikasi Grameen juga merambah Arkansas setelah diminta oleh Bill Clinton selaku Gubernurnya. Negosiasi dihadiri oleh Hillary diatur oleh Ron Grzywinski dan Mary Hougthon, bankir Chicago yang senantiasa berjuang keras meyakinkan Ford Foundation untuk mendukung GB. Kedua bankir tersebut dikenalkan dengan keluarga Clinton oleh Jan Piercy teman sekamar hillary saat kuliah. Belakangan GB di arkansas diubah namanya menjadi Good Faith Foundation untuk memudahkan adaptasi dengan penduduk USA. Setidaknya membuat Ron dan Mary untuk tidak perlu lagi menjawab pertanyaan nasabah tentang asal muasal nama Grameen.

C. Posisi Ideologis GB
GB membangkitkan nilai-nilai sosial dengan memposisikan para nasabah sebagai pemegang saham. Kemanfaatan sosial diprioritaskan bagi perempuan miskin. Jika dalam kapitalisme, bisnisman dianggap sebagai manusia sejati yang mendapatkan privilege-privilege tertentu seperti pembebasan pajak, prioritas akses tanah, proteksi pasar maupun pengakuan sosial, maka GB membalikkan pandangan tersebut untuk kepentingan orang miskin. Sebagai bisnis sosial, GB anti maksimalisasi laba, tetapi memaksimalkan laba dan manfaat sosial sekaligus.

Meskipun Yunus muda menganut kiri tengah progresif dengan paham ekonomi marxist tetapi spektrum ideologi politik GB mengambil jalan tengah, tidak kiri atau kanan. Netralitas GB bermuka ekstrem kanan ditunjukkan pada dukungan terhadap pemerintahan yang ramping, komitmen pada pasar bebas, mendorong lembaga usaha. Sedangkan wajah ekstrem kiri terlihat dari ketidak percayaan pada laizzes faire, upaya penciptaan perusahaan yang berkesadaran sosial (jika perlu didorong dengan insentif) dan intervensi melalui berbagai paket-paket kebijakan maupun layanan tanpa pemerintah.Kendatipun fakta menunjukkan kecenderungan kiri, baginya skenario strategis yang harus tercapai adalah menciptakan trust untuk membuka ruang bagi perekonomian global yang ramah sosial dan lingkungan.

Berkenaan dengan komitmen kredit mikro dunia, WB adalah salah satu lembaga internasional yang terikat dengan kewajiban tersebut. Salah satu program WB yang menerapkan kredit mikro adalah UPP. Kemiripan dengan GB terletak pada nilai-nilai sosial yang ditanamkan, termasuk pendefinisian kemiskinan oleh masyarakat sendiri. Jika GB melakukan interview kepada para peminjam untuk memaknai bebas miskin maka di UPP, komunitas merumuskannya melalui FGD.

D. Landasan Kinerja
Pada pertemuan nasional kedua tahun 1982, GB menutup lokakarya dengan ”Keputusan Sepuluh”. Sepuluh keputusan tersebut ini bertambah menjadi enam belas dalam lokakarya 1984 di Joydevpur. GB tidak pernah membayangkan betapa dalamnya keputusan ini akan mempengaruhi anggota-anggotanya. Kini anggota kami di setiap cabang Grameen sangat bangga menyitir ”Keputusan Enam Belas” yang isinya sebagai berikut:

  1. Kami akan mematuhi dan mengembangkan 4 prinsip GB: disiplin, persatuan, keberanian dan kerja keras di semua bidang kehidupan kami Kami akan mengupayakan kesejahteraan bagi keluarga
  2. Kami tidak akan tinggal di rumah yang bobrok. Kami akan memperbaiki rumah-rumah kami dan berkerja untuk mengupayakan pembangunan rumah baru begitu ada kesempatan
  3. Kami akan menanam sayur mayur sepanjang tahun. Kami akan banyak makan sayur dan menjual sisanya
  4. Selama musim tanam, kami akan menanam benih sebanyak mungkin
    Kami harus menyusun rencana untuk menjaga agar keluarga kami kecil. Kami akan menekan pengeluaran.
  5. Kami akan menjaga kesehatan.
  6. Kami akan mendidik anak-anak kami dan memastikan bahwa kami mampu membiayai pendidikannya
  7. Kami akan selalu menjaga kebersihan anak-anak dan lingkungan kami.
  8. Kami akan membangun dan menggunakan lubang kakus
  9. Kami akan minum air dari sumur. Jika tidak tersedia kami akan merebus air atau menggunakan tawas untuk memurnikannya
  10. Kami tidak akan menerima mahar pada perkawinan anak-anak lelaki kami; kami juga tidak akan memberikan mahar pada perkawinan anak-anak gadis kami. Kami akan menjaga agar sentra terbebas dari kutukan mahar.
  11. Kami tidak akan mengawinkan anak di usia dini
  12. Kami tidak akan berbuat tidak adil dan kamu akan menentang setiap orang yang mencoba melakukannya
  13. Kami akan berupaya memperbesar investasi secara kolektif untuk meningkatkan pendapatan
  14. Kami akan selalu siap membantu satu sama lain. Jika seseorang sedang kesulitan, kami semua akan membantunya.
  15. Jika kami mengetahui adanya pelanggaran disiplin di satu sentra, kami semua akan pergi ke sana dan membantu memulihkan kedisiplinan
  16. Kami akan mengenalkan olahraga di seluruh sentra. Kami akan turut serta secara kolektif dalam seluruh kegiatan sosial.

bErWaCaNa SADAR kRITIS ala GIddEN

Perjalanan panjang penanggulangan kemiskinan bagi bangsa ini sangat melelahkan karena belum membuahkan hasil yang optimal. Padahal telah diperoleh banyak pelajaran berharga meskipun menyisakan sebuah pertanyaan besar mengapa kebijakan yang dibuat masih belum berkorelasi dengan keadilan? Mengapa kesenjangan antara cita-cita dan realita sulit untuk dikristalisasikan? Seolah mustahil mempertemukan keduanya bagaikan minyak dan air. Bagaimana merekonstruksi kembali konsepsinya? Mungkin kita bisa pelajari dari sepotong pemikiran Giddens

Kalau Marx dan Engels kerap mengatakan bahwa struktur atas selalu dihasilkan dari implementasi praxis basic structure maka tidak demikian bagi Gidden. Struktur bukanlah sebuah abstraksi dari praktek sosial, melainkan pedoman yang dapat dijadikan sebagai wahana atau pendulum yang dapat dijadikan sebagai arena untuk menjalankan petunjuknya. Artinya, struktur tidak berupa skemata yang bersifat mengekang (constraining) untuk diimplementasikan oleh para pelakunya sebagaimana digagas oleh Durkheim tetapi lebih bersifat memberdayakan (enabling). Situasi bagaikan konsepsi negara yang berupaya mengintegrasikan dua kekuatan, yaitu pemerintahan berdaulat yang berperan memandirikan rakyatnya diatas wilayah teritorialnya.

Dalam struktur terdapat tiga kekuatan utama, yaitu Simbol (Significancy), penguasaan (dominasi) dan pembenaran (legitimasi). Simbol adalah interpretasi makna wacana yang dilaksanakan oleh para pelaku melalui penguasaan agar terjadi legitimasi untuk memudahkan pengendalian. Wacana membutuhkan komunikasi melalui kekuasaan agar dapat memerintahkan sebuah pengaturan yang bila tidak dijalankan akan menimbulkan konsekuensi berupa sanksi.

Pola hubungan struktur dengan praktek sosial adalah dualitas yang saling berinteraksi melalui komunikasi dan bukan dualisme yang saling memisahkan. Kontinuitas interaksi antara struktur dengan praktek berlangsung terus menerus membangun daur dialektika yang menciptakan kesadaran para pelakunya untuk melakukan refleksivitas sosial.

Kesadaran yang dituju bukanlah kesadaran praktis tetapi lebih merupakan kesadaran diskursif. Berbincang mengenai dimensi kesadaran, Gidden mengatakan bahwa praktek sosial kerap diimplementasikan tanpa ada kesadaran diskursif. Padahal kesadaran diskursif membuka ruang komunikasi dengan apa yang dilakukan. Sadar pragmatis cenderung berpraktek karena berorientasi pada kebutuhan yang menggerakkannya secara tak sadar (misalnya bekerja untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, masuk kerja jam sepuluh karena takut sanksi atau berseragam korpri karena takut ditegur atasan). Motivasi tindakan didasari oleh kebutuhan yang tidak disadari telah menuntunnya. Taken for granted knowledge mendasari kesadaran praktis, sedangkan kesadaran diskursif mencoba mengambil jarak dengan mengedepankan pertanyaan mengapa kita melakukan rutinitas tindakan itu. Berada dimanakah Kita?

WELCOME TO MY ENLIGHTMENT

Welcome to my home..... Memulai sebuah perjalanan lintas batas terasa menggairahkan. Berbagai tantangan, orientasi dan motivasi kehidupan tak terasa telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Aktualisasi diri sebagai homo homini lupus yang selalu mencoba eksis di tengah arena pergaulan dan padang persaingan mulai dari 'kiri' hingga 'kanan' akhirnya jatuh di aras kiri.

Sungguh tidak dinyana ternyata tak mudah mengasah diri dan bertransformasi dari arah ini. Gejolak tantangan menyergap dari berbagai penjuru. Inilah aku yang masih berdiri di persimpangan kiri setelah serbuan goncangan itu. Kuyakini badai akan tetap mengancam seiring tingginya komitmen untuk mencapai sesuatu yang hakiki. Sesuatu yang bukan untuk mementingkan ego yang narsis.